Sebuah Kisah Nyata dari Elfata edisi 08 vol 09 2009

Mau berbagi cerita niy… Dari majalah… Bisa kita ambil hikmahnya… Beginilah:

“Dulu saat aku mulai hijrah untuk menjadi serang akhwat, aku selalu membayangkan suatu saat nanti aku bisa menikah dengan seorang ikhwan. Tapi niatku untuk hijrah bukan karena itu, insyaAllah. Itu karena seringnya materi pernikahan dalam pengajian rutin setiap jum’at di sekolah atau disebut Rohis.

Alhamdulillah, saat kelas 2 SMA aku diberi hidayah oleh Allah swt lewat perantara teman. Awalnya aku menolak, karena dulu aku adalah cewek yang tomboi dan bandel. Walaupun aku tidak suka memakai pakaian seksi tapi tetap saja aku tidak menutup aurot. Yah, selayaknya penampilan lelaki, tapi setelah aku ikut ngaji aku baru tahu bahwa Allah swt melaknat wanita yang menyerupai laki-laki atau sebaliknya. Hari-hari kujalani dengan penampilan baru dan tingkah laku baru yaitu sesuai perintah Allah swt. Walaupun ada kendala sewaktu foto untuk ijazah, seluruh siswi yang berjilbab harus membuka jilbabnya agar terlihat kupingnya. Huh…, sungguh alasan yang dibuat-buat. Aku dan temanku sempat goyah, kebetulan yang bertahan dari seluruhnya hanya aku dan temanku. Tapi kami menguatkan hati dan pertengkaran kecil tak terelakkan lagi dengan bagian kesiswaan. Aku yakin jika kita benar, pasti Allah swt akan menolong kita.

Setelah lulus SMA aku melanjutkan studi ke salah satu PTS di kota Medan. Hari-hari kujalani layaknya mahasiswi, kuliah, mengerjakan tugas dan sebagainya. Aku suka berorganisasi maka aku juga ikut dalam kegiatan kampus yaitu LDK. Ternyata di situlah awal musibah itu, yah bagiku itu adalah musibah. Aku menjabat sebagai koordinator keputrian, yang itu berarti interaksi dengan atasan-atasan dalam LDK sering terjadi. Tapi ternyata interaksi itu memunculkan sesuatu rasa yang aneh dalam hatiku. Ada seorang ikhwan yang selalu membuatku marah, karena kami memang selalu tidak sepaham ketika syura. Dan akhirnya kami sama-sama seperti musuh. Aku tidak menganggap dia musuh tapi dia seolah-olah yang seperti itu. Akhirnya aku ketahui bahwa dia bersikap seperti itu hanya untuk menutupi perasaannya padaku. Sebenarnya aku mulai merasakan hal yang sama. Tapi aku berusaha kuat. Toh tidak ada pacaran dalam Islam dan malu dong, masak aktivis pacaran.

Tapi Allah swt berkehendak lain. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa ayah si ikhwan itu meninggal, entah kenapa aku merasa sedih sekali. Setan mulai menggodaku untuk menghiburnya, walau lewat sms dan dia menanggapi. Seminggu setelah kejadian itu, dia meneleponku bahwa dia menanyakan apakah aku bersedia menjadi istrinya. Entah kenapa aku langsung mau tanpa ba bi bu. Padahal seharusnya aku berfikir lagi apakah dia serius, apalagi aku masih kuliah di semester tiga dan dia masih semester lima. Yang ada dibenakku adalah enaknya nikah dini. Tapi ternyata jalannya berbeda, keputusan kami tidak diterima oleh kedua kami. Kami sering komunikasi hanya untuk membicarakan perkembangan niat kami. Setan telah menghembuskan rasa was-was di hati kami. Aku merasa takut kehilangan dia dan dia juga begitu. Dia selalu bilang kalau dia mencintai aku karena Allah swt, dan aku juga begitu. Aku tahu bahwa cinta seperti ini hanya ada dalam pernikahan, tapi hati ini telah buta. Kadang aku berfikir ini cinta atau nafsu. Ya Allah, saat itu aku tidak mampu melepaskan diri darinya, walaupun kami berdua telah dinasehati oleh teman-teman di LDK. Bahkan kami diancam dikeluarkan, tapi kami tidak peduli. Akhirnya kami memang pacaran, sungguh hal yang tidak terduga. Hubungan kami berlanjut sampai kami lulus kuliah. Kami mencoba untuk bicara lagi dengan orangtua. Lagi-lagi kami harus kecewa, kami harus bekerja dulu baru boleh menikah. Karena kami yakin kami akan menikah maka kami mengikuti keinginan mereka.

Hubungan kami semakin akrab, duh Allah, betapa aku telah menodai pakaian takwa ini, sungguh hamba seorang munafik. Sering aku dan dia menangis dalam sujud, tapi kami tetap kalah, tidak bisa menghentikan hubungan ini, ibadah tidak terasa lagi nikmatnya, bahkan sering telat, jarang tilawah. Sungguh suatu kemunduran yang amat sangat.

Dia sekarang sudah dapat kerja, dia lulus tes PNS dan ditempatkan di daerahnya. Aku senang, itu berarti kami akan segera menikah. Tapi kali ini aku yang kecewa. Tiba-tiba dia bilang kalau ibunya tidak setuju kalau aku dan dia menikah. Tanpa alasan yang jelas, bahkan dia sendiri tidak tahu apa maksud ketidaksetujuan ibunya. Rasanya seperti kejatuhan bumi, berat banget, sedih, kecewa, marah semua jadi satu. Kenapa baru bilang sekarang, setelah semua terjadi? Ya, Allah aku seperti menggadaikan kehormatan jilbab ini hanya untuk cinta semu.

Akhirnya kami bicara untuk memutuskan masalah ini. Bagaimana sebenarnya, tapi dia seolah-olah tidak bisa menjawab. Aku kecewa padanya. Mengapa dia seperti tidak punya sikap, aku tahu dia tidak ingin menyakiti hati ibunya. Tapi bagaimana dengan aku? Aku juga tidak mau dia harus durhaka, maka aku memutuskan untuk menghentikan hubungan ini. Walau sempat terjadi hal yang sebenarnya tidak aku inginkan. Tapi tidak ada kata terlambat khan untuk suatu perubahan yang positif.

Sekarang aku hanya ingin meninggalkan semua kenangan kelam itu walaupun sulit, tapi harus. Toh masa depanku masih panjang, kalau hanya untuk memikirkan kesedihan akibat pernikahan yang tertunda. Dan menangis hanya karena aku tidak menjadi miliknya. Sesungguhya semua ada yang mengatur. Kini aku menyadari bahwa tindakan aku selama ini amatlah buruk. Aku yakin Allah swt akan mengampuniku, kaena Dia Maha Pengampun. Aku telah dibutakan leh cinta semu, cinta yang selama ini indah. Seharusnya aku mencintai yang lebih indah, sang pencipta keindahan yaitu Allah swt. Semoga aku bisa mengambil ibroh dari apa yang telah aku rasakan.”*

Sumber: Majalah Elfata edisi 08 vol 09 – 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s