
Di negeri orang (Thailand) yang muslimnya minoritas ini, saya dikenalkan pada seorang ibu dari Jogja. Beliau meminta saya mendampingi dan membimbing dua anaknya yang masih kecil belajar membaca Al-Qur’an dan Iqra. Pertama, kukira itu hal yang biasa saja.
Makin ke sini kok saya semakin merasa bahwa ekspekstasi ibu itu besar sekali terhadap saya. Dia banyak bercerita tentang masa dulu saat masih di Jogja, bagaimana anaknya rajin membaca Al-Qur’an, shalat, dan lain-lain karena ia bersekolah di SD Muhammadiyah sehingga ada gurunya yang strict mengarahkan anak didiknya.
Dia juga curhat, bagaimana anaknya menjadi menurun sifat rajinnya sejak bersekolah di International School di Baangkok. Anaknya tidak lagi solat dhuhur karena masih jam sekolahnya, jadi tidak ada acara solat duhur.
Beliau sepertinya pengen mengembalikan kebiasaan baik yang hilang itu.
Do the best.
Begitu kata2 my hubby ketika saya curhati. Kemudian kami berdiskusi mengenai hal-hal yang bisa diusahakan untuk memaksimalkan potensi yang ada.
Ini dia, saya bagi tipsnya. Masih sedikit sih, mungkin kapan2 bisa di-update.
- Fun. Senyuman yang tulus usahakan selalu tampilkan (cling…
) Guyonan ringan juga perlu dimunculkan. suasana santai dan ceria sangat membantu penguasaan materi karena tidak ada kesan mengerikan atau terbebani.
- Komunikatif. Saat dia bercerita tentang kegiatan di sekolahnya atau yang lainnya, tanggapi secukupnya. Tunjukkan perhatian kita pada apa yang dia sampaikan. Mudah-mudahan dengan begitu dia pun perhatian pada apa yang kita sampaikan.
- Membuat tabel jadwal. Ini mendorong agar dia lebih disiplin. Misalnya, kita mengajar setiap minggu hanya sekali saja, maka untuk hari yang lain buatkan tabel agar dia tersorong untuk mengaji sendiri atau disimak ayah-bundanya. Lebih utama lagi, buatkan tabel solat setiap hari agar dia merasa lebih bertanggung jawab. Ini contoh tabelnya, da yang hitam putih, ada yang berwarna, klik aja: kartu-les-ngaji-black-upload dan kartu-les-ngaji-colour-upload
- Beri Nilai. Penghargaan memang perlu. Fungsi utamanya adalah memotivasinya untuk menjadi lebih baik lagi.
- Kisahkan cerita Islami. Tentu saja, cerita-cerita tersebut harus shahih. Misal, ambil sumber dari Al-Qur’an, atau hadits-hadits nabi. Seperti cerita ini http://kaahil.wordpress.com/2011/09/12/gratis-cerita-anak-islami-kisah-si-belang-kusta-si-botak-dan-si-buta-seri-kisah-anak-islam-%E2%80%93-pengganti-dongeng-anak/dan ini http://maramissetiawan.wordpress.com/tag/kisah-teladan/(zam-zam, qorun, nabi yunus as, abrahah dan tentara gajah, dengan audio). Saat bercerita, urut-urutan ceritanya kita gambar di kertas A4. Tujuannya, agar lebih mengena dan lebih seru. Dia bisa jadi tiba-tiba merebut pensil kita dan ingin ikut menggambar bagian cerita, misalnya menggambar sapi atau untanya. Seru sekaliiii
- Siapkan kertas dan pensil. Ini digunakan saaat dia menulis apa yang baru saja dibacanya. Tujuannya, supaya dia terampil menulis tulisan Arab.
tunggu kiat2 selanjutnya.
(Btw, bahasa post ku kali ini formal sekaliiiiiiiii >,< )
Sumber gambar: http://kertas-kecilkita.blogspot.com/2012/02/al-quran-online.html